Menapaki Batu : Roti Bakar Yoenoes

21 July 18 - Nadia Maya Ardiani

Menu roti bakar mungkin tidak terlalu istimewa di telinga, tapi setiap tempat tentu punya ceritanya sendiri-sendiri, termasuk kedai roti bakar yang satu ini. Terletak di Jl. Panglima Soedirman, tak jauh dari gedung Pemerintah Kota Batu, di dekat lampu merah kita akan mendapati kedai merah yang menu utamanya antara lain roti bakar & STMJ—kombo sempurna untuk dinikmati di tengah hawa dingin yang menyeruak saat malam jatuh di kota ini.

Roti Bakar Yoenoes, Batu, Malang

Bapakmu mbiyen wong kene yo? (bapakmu dulu anak sini ya?),” selidik Pak Yoenoes, sang empunya kedai yang masih ikut turun melayani pelanggannya itu. “Bukan pak, tapi saya direkomendasikan sama teman saya di Surabaya, kebetulan dia arek lawas-e mBatu (anak lama-nya Batu),” jawab saya. Ternyata, berdasarkan pengamatan Pak Yoenoes yang kerap ikut cangkruk bersama pengunjung, 60% pengunjung kedainya bukan berasal dari warga Batu sendiri, tapi justru dari Malang & Surabaya. Dan dari jumlah yang 60% itu, banyak di antaranya adalah ‘pengunjung turun-temurun’, alias teman yang direkomen temannya teman, serta para anak yang direkomen orang tua atau keluarganya untuk mampir ke sana. Dari yang 60% itu, Pak Yoenoes hafal wajah sebagian besarnya, tapi tentu saja sulit untuk menghafal namanya ya.

Kata Pak Yoenoes, tempat yang ditempatinya sekarang ini adalah tempat ke-9 sejak usaha roti bakarnya berdiri di tahun 1986. Pada masa itu, usahanya dikelola bersama-sama dengan beberapa teman. Baru pada tahun berikutnya, 1987, Pak Yoenoes mengelola sendiri kedai roti bakarnya. Uniknya, 8 lokasi sebelumnya sama-sama berada di sisi jalan yang sama dengan lokasi sekarang (yang sudah ditempatinya sejak tahun 2000).

“Iya, jadi dari dulu ya pindah-pindahnya di sisi jalan sebelah sini aja, dari gedung Pemkot Batu itu sampai ke sini,” jelas Pak Yoenoes, “jadi biarpun pindah tapi pelanggan gak susah nyari tempat barunya.”

Roti Bakar Yoenoes, Batu, Malang

Roti bakar yang disajikan Pak Yoenoes sebenarnya sederhana saja, berupa setangkup roti yang diletakkan diantara penjepit kemudian dibakar di atas bara kompor. Tidak terlalu kecil, tidak terlalu besar. Pas dan tidak eneg. Pilihan isinya cenderung klasik, dan yang menjadi favorit dari dulu hingga sekarang adalah rasa coklat-keju serta keju-telur-kornet.

Kedai ini gampang ditemukan karena meja-kursinya tumpah sampai ke area trotoar, itupun kadang banyak yang batal nongkrong karena kehabisan kursi. Buka jam 18.00 sampai 02.00, makin malam pengunjung tampak makin ramai berdatangan. Walau karyawannya dibagi-bagi tugasnya sesuai hari, kadang ada karyawan yang seharusnya libur pada hari tertentu tapi tetap datang ke kedai karena lebih memilih cangkruk di situ daripada ‘gak-tau-mau-ngapain’ di rumah atau kosan (“Pegel aku, padahal wes dikongkon libur kok malah pancet mlebu, -- Heran, sudah diberi libur kok malah tetap masuk,” kata Pak Yoenoes). Tak heran, vibe warung yang satu ini memang menyenangkan dan sangat welcoming, plus hampir di semua meja ada colokan listriknya, jadi buat yang ingin cangkruk tapi juga masih harus menanggapi tuntutan pekerjaan tempat ini bisa jadi pilihan yang menarik. Plus, harganya terjangkau, rotinya berharga kisaran 10.000-18.000 rupiah saja. Selain roti bakar, ada pula opsi mie instan, sementara untuk minumnya ada kopi, teh, susu, dan STMJ (Susu Telor Madu Jahe).

Roti Bakar Yoenoes, Batu, Malang

Pak Yoenoes sempat bercerita pada saya bahwa di awal berdirinya kedai ini, banyak yang memandang aneh keputusan Pak Yoenoes berjualan roti bakar. Jangankan konsep kafe, di akhir era 80an membuka kedai yang menawarkan menu utama makanan ringan saja dianggap suatu konsep yang asing. “Dulu itu kalo orang buka warung, ya warung nasi. Atau makanan berat-berat gitu lah. Lha saya jualan roti bakar, ya orang-orang pada heran, ngapain buka warung roti?” kenang Pak Yoenoes. Walau begitu beliau tetap bertahan dengan menu andalannya tersebut, dan kemudian menjadi pionir di dunia per-roti bakar-an Batu.

Dan kini, di berbagai sudut kota Batu kita bisa dengan mudah menemukan banyak penjual roti bakar dengan rasa yang lebih variatif. Gak takut kalah saing, pak?

“Rejeki udah ada jatahnya masing-masing. Buktinya warung saya masih ramai, yang dari Surabaya kayak sampeyan aja mbelan-mbelani nyari tempat ini to ?”. Iya deh pak iyaaa.