Menapaki Batu : Es Campur Pak Said

21 July 18 - Nadia Maya Ardiani

Di antara jalan-jalannya yang nyaris tak pernah terbentang datar, Batu menyimpan sejumlah titik menarik untuk dikunjungi selama kamu berada di Swiss Kecil ini. Tujuan pertama : the legendary Es Campur Pak Said!

Menemukan lokasi ‘mangkal’ Pak Said membutuhkan sedikit ketekunan, karena letaknya yang berada di dalam gang kecil dan tulisan “Es Campur Pak Said” yang tertulis di tendanya tak terlalu tampak jelas. Letaknya di dalam sebuah gang yang berada tepat di sebelah Masjid Agung An-Nuur Kota Batu (Masjid Alun-Alun Batu). Di dalam gang itu kamu bisa menemui beberapa gerobak kaki lima, 2 di antaranya tampa ramai dan tampak saling melengkapi—yang satu adalah Gorengan Bu Siti, dan yang satunya lagi tak lain dan tak bukan adalah Es Campur Pak Said yang legendaris itu.

Gorengan Bu Siti, Batu, Malang

Bayangkan menyeruput manisnya es campur dingin ditemani beberapa jenis gorengan dari gerobak sebelah yang masih hangat, di tengah cuaca sejuk Batu. Bu Siti menyediakan lebih dari 10 jenis gorengan, jika kamu ingin mencicipi semuanya maka keberadaan es campur Pak Said menjadi semakin penting demi kelancaran lalu lintas di tenggorokan.

Es Campur Pak Said, Batu, Malang

Isi es campurnya begitu sederhana, tak seperti es campur ~kekinian~ yang memasukkan separo lorong supermarket ke dalam satu mangkuk. Di dalam mangkuk kaca yang disajikan oleh Pak Said sendiri, bisa kita temukan gunungan kecil es serut yang dilumuri susu kental manis, didampingi oleh potongan roti tawar, agar-agar, tape ketan hitam, mutiara, kolang-kaling, dan kacang hijau. Komposisi inilah yang telah memikat pelanggannya dari generasi ke generasi.

Es Campur Pak Said, Batu, Malang

“Saya udah jualan es campur di sini itu sejak 7 Agustus 1954!” ucap Pak Said dengan tegas dan bangga. Buset, siapa sangka dirinya akan menyebutkan lengkap dengan tanggalnya waktu saya bertanya soal masa-masa awal Es Campur Pak Said berdiri. Ternyata sebelum berada di posisi yang sekarang, dulu beliau menjajakan es campurnya di Pasar Batu, yang kini lokasinya telah berubah menjadi Alun-Alun Batu. Pada masa itu Kota Batu masih bergabung dengan Kabupaten Malang. Karena pada awal tahun 80an Pasar Batu terbakar, lantas beliau pindah tempat hingga akhirnya tahun 1985 menetap di titik berjualan yang sekarang.

Es Campur Pak Said, Batu, Malang

Selesai meracikkan pesanan saya, Pak Said membuka laci gerobaknya dan mengulurkan sebuah foto yang terbungkus rapi dalam plastik kepada saya.

“Wuihh, ini sampeyan ta, pak? (ini bapak kah?)”, tanya saya, sambil mengamati foto lawas yang menampakkan seorang pemuda sedang meracik es campur untuk 3 polisi militer.

“Ya iyaa lah!” kata Pak Said, tertawa puas. Beliau lantas bercerita tentang siapa-siapa saja orang penting yang menjadi pelanggannya. “Lek gak enak balekno yo (kalau tidak enak, kembalikan ya). Beli di sini itu ada garansinya lho nduk,” tambahnya sambil terkekeh. Nampaknya memang kesederhanaan dan keramahanlah yang menjadi alasan utama kenapa es campur racikan Pak Said selalu dicari dan dirindukan banyak orang.

folk music festival