While in Batu : Festival Banteng Nuswantoro

05 August 18 - Folk Music Festival

Buat teman-teman pengunjung Folk Music Festival 2018 yang tidak menginap di area dekat venue, sangat disarankan untuk tidak berangkat terlalu mepet karena ada beberapa ruas jalan yang ditutup nih, karena di hari Minggu akan bertepatan juga dengan pelaksanaan acara Banteng Nuswantoro, pagelaran kesenian rakyat yang rutin diadakan setiap tahun di kota Batu, Jawa Timur.

Tapi ini bukan kabar buruk lho ya pemirsa. Ini justru kabar baik! Kapan lagi pas menghabiskan akhir pekan di Batu, bisa dapat kesempatan menyaksikan DUA acara besar nan seru sekaligus? Plus, Banteng Nuswantoro dimulai di pagi hari, tepatnya jam 09.00. Terdengar mantab untuk jadi pemanasan sebelum berdendang di tempat dingin, kan?

Kesenian Banteng Nuswantoro sendiri adalah perpaduan dari seni tari dan seni bela diri pencak silat. Diawali dengan menata sesaji di area pertunjukan, beberapa pemeran bantengan (biasanya puluhan) kemudian dibacakan doa, disiramkan air kembang, dan seketika itulah para ‘banteng’ tersebut akan kalap dan mulai beratraksi. Di titik ini penonton biasanya sontak terkejut, ketakutan, tapi sekaligus tidak rela kalau tidak menyaksikan sampai habis.

Di Batu, penampilan Banteng Nuswantoro bisa dikatakan ‘wajib ada’ di setiap pawai. Kesenian karya Bapak Agus Tubrun ini memang merupakan salah satu kesenian terkuat yang dimiliki wilayah Malang Raya khususnya Kota Batu. Kehadirannya selalu dinanti-nanti penonton, walau selalu bikin kaget siapapun yang melihatnya. Tampaknya kita memang suka kejutan ya.

Eksistensi Bantengan, menurut berbagai sumber, bermula dari ksatria/patih dari Kerajaan Kanjuruhan (sekarang Malang Raya). Sayangnya, mungkin karena keterbatasan rekam jejak informasi mengenai kesenian ini, agak sulit bagi Bantengan untuk dikenal luas di luar areanya sendiri dan bagi generasi muda. Pak Agus sebagai Pendekar Banteng Nuswantoro saja sampai harus bersemedi dan bertanya kepada leluhur mengenai asal muasal kesenian tradisional ini.

Gerakan-gerakan yang dipertunjukkan para pemeran Bantengan mengadaptasi dari gerakan hewan banteng yang sesungguhnya. Menariknya, pembuat kepala Bantengan ini tidak bisa sembarang orang lho. Bentuk, ornamen, dan apapun yang ada di kepala Bantengan ini harus sesuai dengan pesan dari leluhur. Tak jarang sang pembuat kepala Bantengan berada dalam keadaan tidak sadar saat sedang melakukan tugasnya--yap, beliau ‘dipandu’ oleh kekuatan di luar dirinya.

Fyi, kepala bantengan ini beratnya bisa mencapai 20-an kg lho. Bayangkan, para pemeran Bantengan ini kudu menari-nari dengan iringan gamelan Jawa dalam keadaan mengenakan benda tersebut di kepala! Rupanya saat pertunjukan para pemain dibantu leluhur yang dilinggihkan di dalam kepala Bantengan. Selama pertunjukan Bantengan juga akan didampingi oleh Macanan. Kini, sanggar Bantengan tersebar di seluruh wilayah eks-kerajaan Kanjuruhan, yakni Malang Raya, Kediri, Probolinggo, dan Pasuruan, yang mana tentunya ada keragaman penyajian dari masing-masing daerah tersebut.

Oh iya, balik lagi soal ruas jalan yang ditutup. Berikut adalah jalan-jalan yang ditutup terkait adanya penyelenggaraan acara tahunan ini :

Jl. Sultan Agung

Jl. Agus Salim

Jl. Gajah Mada

Jl. Panglima Sudirman

Acara akan dimulai di Gelora Brantas, dan berakhir di Balaikota Batu, dan berlangsung pada jam 09.00-selesai. Bagi yang tidak mengikuti Lokakarya pada jam-jam awal Folk Music Festival, mungkin bisa lewat sebentar ke rute-rute yang dilewati arak-arakan Banteng Nuswantoro ini, sebelum kemudian kembali menuju Kusuma Agrowisata untuk mengawali hari dengan panggung pertama di hari Minggu : Holaspica! (Untuk jadwal lengkap sila bertandang ke laman Jadwal : http://folkmusicfestival.id/home/jadwal )

Foto : http://humasbatugallery.blogspot.com